ReproMedia.id SEMARANG – Masyarakat kembali dikejutkan dengan peristiwa kecelakaan Truk di tanjakan Silayur di Jalan Prof Dr Hamka, Ngaliyan pada Rabu (22/4/2026) dini hari. Kecelakaan terjadi sekitar pukul 01.50 WIB, saat kendaraan angkutan barang memang diperbolehkan melintas. Dari hasil pemeriksaan awal, truk berpelat B 9262 BYY yang mengangkut kayu triplek diduga mengalami kelebihan muatan.
Kepala Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Semarang, Danang Kurniawan menjelaskan, pihaknya langsung menindaklanjuti dengan melakukan pengecekan lapangan. Ia menjelaskan beban kendaraan diperkirakan mencapai sekitar 27 ton setelah dikonversikan. Selain itu, material triplek yang dibawa diduga menyerap air selama perjalanan, sehingga menambah berat kendaraan.
“Pengemudi mengaku sudah menggunakan gigi satu sejak dari bawah, namun tetap gagal menanjak,” ujarnya. Secara teknis, kendaraan disebut masih dalam kondisi laik jalan hingga September 2026 dan tidak ditemukan kerusakan signifikan.
Danang mengatakan, terlepas dari insiden kecelakaan tersebut, pihaknya menyoroti persoalan lain yang tak kalah penting yakni jenis kendaraan tersebut seharusnya tidak melintas di jalan kelas II seperti di kawasan Silayur. Artinya, persoalan bukan hanya pada kondisi kendaraan, tetapi juga pada ketidaksesuaian antara beban, jenis kendaraan, dan karakter jalan.
Ia menjelaskan, kendaraan angkutan barang memang diperbolehkan melintas mulai pukul 23.00 WIB hingga pagi hari, terutama untuk mendukung aktivitas kawasan industri. Sebelumnya, petugas Dishub juga telah melakukan pengawasan di titik penyekatan hingga pukul 23.00 WIB. Namun, kejadian ini menunjukkan bahwa pengaturan waktu saja belum cukup tanpa pengawasan muatan dan jenis kendaraan.
Sebagai tindak lanjut, Dishub Kota Semarang berencana memperketat pengawasan kendaraan barang. Beberapa langkah yang akan dilakukan antara lain penggunaan timbangan portable di lapangan, optimalisasi sistem portal buka-tutup, pengawasan lebih ketat terhadap kendaraan berat dan langkah ini diharapkan mampu menekan potensi kecelakaan serupa.
“Harapannya bisa memberikan rasa aman bagi pengguna jalan,” kata Danang.
Kecelakaan berulang di tanjakan Silayur kembali membuka persoalan klasik, antara kebutuhan logistik dan keterbatasan infrastruktur jalan. Selama pengawasan muatan dan kepatuhan terhadap kelas jalan belum berjalan optimal, jalur ini berpotensi terus menjadi titik rawan bukan hanya karena tanjakannya, tetapi karena sistem yang belum sepenuhnya terkendali. (Red)


















